![]() |
Gambar ini hanya hiasan belaka (dari Google) |
Secara jujur kami akui, NBG yang ada pada kami memang
belum tamat dan masih belum tuntas pembahasannya, entah berapa naskah lagi
kelanjutannya. Akan tetapi, dari satu naskah ini, kita sudah dapat menangkap
ide, gagasan, gambaran prilaku, dan ajaran luhur yang merupakan potret budaya
Cirebon yang berkembang pesat pada saat itu. Penekanan pengajaran suluk (tasawuf dalam bentuk tembang)
yang bertitik berat pada penamsilan yang begitu nyata mendomonasi naskah ini.
Dengan kata lain, penggunaan bahasa ibarat seperti lir, lirpenda, lirkadiya dan
terkadang figurative, sangat menyentuh hati dan membuat kita terhanyut
dihempasan ombak sastranya. Oleh karena itulah, dibagian lampiran buku ini kami
tampilkan NBG dengan tanpa terjemahan dan tafsiran, agar pembaca dapat
menikmati alunan kata demi kata yang tersusun dalam NBG secara puitis, bahkan jika
kita mau lebih terbuka, dominasi bahasa ibarat yang dipakai NBG menuntun kita
ke dalam kesadaran berbahasa yang halus dan indah.
Tentunya penulis NBG, yang hingga saat ini belum kami
ketahui, hendak mengajari kita (masyarakat Cirebon khususnya) tentang suluk
Cirebon dari segi kalimat dan makna, sehingga warna makna atau prilaku yang
dapat dipahami dari NBG mengungkapkan hal-hal yang bernuansa spiritual dan
tasawuf. Hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah semua prilaku yang
digambarkan oleh NBG tak lepas daripada Cirebon sebagai ruang gerak penulisnya.
Didamping itu, keterbatasan referensi yang ada atau kurangnya pengetahuan
penulis NBG terhadap al-Quran dan Hadits terasa sekali. Namun demikian,
semangat ‘bersuluk’ tampaknya cukup kuat dikalangan Islam Cirebon pada saat
itu, sehingga NBG-terlepas dari kekurangan dan kelebihannya-menjadi naskah
suluk yang khas ala Cirebon. Gagasan dan pemikiran yang tertuang dalam NBG
sudah dianggap cukup kuat dan dapat menjelaskan konsep wahdatul wujud yang
tumbuh dalam pemikiran tasawuf Timur Tengah menjadi manunggal ala Cirebon yang
bisa dipahami berbeda dengan konsep dengan manunggal versi asalnya atau bahkan
versi Siti Jenar. Manunggal versi Siti Jenar memang photo copy dari asalnya
dengan kertas (bahasa) Jawa yang pada saat itu masyarakatnya masih kuat oleh
pengaruh-pengaruh Hindu dalam peristilahan ajaran prinsip ketuhanan. Sehingga
muncul anggapan bahwa Islam dan Hindu-Budha sebenarnya sama dalam memandang
Tuhannya. NBG memilih jalan yang tergolong sederhana dan dapat dicerna oleh
kalangan umum, sehingga kebingungan orang tentang persamaan Islam dan Hindu
dalam memandang Tuhannya, dalam konsep menunggal, tak terjadi dalam pengajaran
NBG.
Pengajaran dengan model suluk yang digunakan oleh NBG
bukan tanpa awal dan permulaan. Di Timur Tengah sendiri, suluk diajarkan dengan
tembang atau nadhom-nadhom yang ternyata mendapat respon yang cukup baik
dikalangan masyarakat Islam. Ide-ide yang kadang sulit diungkapkan dengan
uraian model nastar atau prosa begitu
mudah dan lancar di gubah dalam tembang dan nadhom. Sehingga kesalah pahaman
antara kelompok (kaum) yang pro wahdatul wujud dan kontra wahdatul
wujud dapat dihindari.
Menurut
al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud)
itu ada dua golongan: wujudiyyah mulhid dan wujudiyyah muwahhid. wujudiyyah mulhid termasuk
golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah
muwahhid, menurut dia, “yaitu segala ahli sufi yang sebenarnya”, mereka
dinamakan kaum wujudiyyah ”karena
bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah”. Ia tidak
menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan dari wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah
muwahhid tentu tidak menganggap bahwa Allah tidak “tiada maujud melainkan di dalam kandungan
wujud segala makhluk”, atau “bahwa Allah itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata
kaifiat-Nya daipada pihak ada. Ia waujud pada kharij dan pada zaman dan makan”,
dan tidak pula membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku,
hanya wujud Allah”, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Keterangan
al-Banjari mengenai ajaran kaum wujudiyyah
mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan keterangan ar-Raniri, yang dalam
abad sebelumnya menyanggah penganut-penganut di Aceh.
Berdasarkan penjelasan ini, pada dasarnya sama dengan ajaran wahdah al-wujud Ibnu Arabi. Ajaran ini
juga memandang alam semesta ini sebagai penampakan lahir Allah dalam arti bahwa
wujud yang hakiki hanya Allah saja-alam semesta ini hanya bayangan-bayang-Nya.
Dari satu segi, ajaran ini kelihatan sama dengan ajaran tauhid tngkat
tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud yang hakiki hanya satu-Allah,
tetapi dari lain segi wujudiyyah muwahhid
dan wihdah al-wujud ini tidak
sama dengan pandangan “bahwa yang ada hanya Allah” dalam ajaran yang terakhir
ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, yakni terhapunya kesadaran
akan wujud yang lain, sedang dalam ajaran wihdah
al-wujud, pandangan tersebut kelihatan sebagai hasil penafsiran atas
fenomena alam yang serba majemuk ini. Di samping itu, pandangan tauhid tingkat
tertinggi itu, nampaknya didasarkan atas asumsi bahwa esensi Allah yang mutlak
itu dapat dikenali secara langsung, tanpa melalui penampakan lahir-Nya, asumsi
ini dibantah oleh Ibnu ‘Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal
melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. (Naskah Klasik Keagamaan Nusantara I
Cerminan Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat
Keagamaan, Puslitbang Lektur Keagamaan, 2005: 49-50).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar