Senin, 04 Februari 2013

Tarekat


Tarekat

Tarekat  (طريقة) secara etimologi berarti jalan, cara, metode, sistim, madzhab, aliran, haluan, keadaan, dan beberapa makna lain yang dapat memberi beberapa pengertian yang lain[1].
Sedang menurut istilah Ulama Tasawuf, tarekat artinya suatu cara atau jalan pendakian yang ditempuh oleh seorang salik menuju suatu tujuan. Tujuan itu adalah sampai kepada Allah swt, yaitu makrifatullah (mengenal Allah swt). Atau suatu jalan yang ditempuh oleh seorang salik dengan cara mensucikan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Al-Hujwiri pengarang kitab Kasyf  al-Mahjub, berpendapat bahwa tarekat adalah media dan cara yang tepat dalam melaksanakan syariat (jalan besar), jalan kecil (thariq) yang menyampaikan pelaku tasawuf ke terminal hakikat. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. QS. 6 [Al-An’am]: 153. “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). QS 72 [Al-Jin]: 16. Jalan Lurus dalam dua ayat dari dua surat di atas dimaknai sebagai Tarekat.[2]
Tarekat di Cirebon berkembang sejak awal mula Islam masuk ke tanah ini. Artinya, para pendiri Caruban Nagari adalah para tokoh Tarekat yang sungguh-sungguh dalam menjalankan berbagai aspek ajaran tarekat yang mereka anut. Kesungguhan mereka dalam penyebaran tarekat di Cirebon masih dapat kita temui dalam beberapa naskah Babad Cirebon dan Naskah Taekat itu sendiri. Jejak-jejak mereka dalam pergerakan tarekat ini juga masih dapat kita jumpai di beberapa tempat, pengguron, dan pesantren seperti Pesantren Balerante, Pesantren Buntet, Pesantren Babakan, dan lain-lain.
Tarekat sebagai ajaran tradisi yang terorganisir dalam bentuk kelembagaan jam’ah mengakar kuat dalam beberapa kisah yang cukup mengesankan. Sunan Kalijaga misalnya, sanggup menjalankan ajaran ‘tapa lali’ yang diajarkan oleh Sunan Bonang kepada dirinya sebagai syarat untuk menjadi muridnya yang baik. Tarekat dalam kisah Babad dan Suluk ini, sebagai gambaran suatu cara yang ditempuh oleh Sunan Bonang untuk menyadarkan Raden Said ke jalan ilahi dengan teknik kesetiaan dan kesungguhan. Kesungguhan dan kesetiaan seorang murid dapat diketahui dengan metode (baca: tarekat) yang diajarkan oleh Sunan Bonang kepadanya. Tarekat dengan makna inilah yang selama ini belum pernah di sentuh oleh para penulis.
Saat pertemuan antara keduanya – karena beberapa lama Raden Said mencari Sunan Bonang belum juga menemkannya – Raden Said menubruk Sunan Bonang dengan penuh tangis dan harap. Pasrah jiwa dan raga kepada Sang Guru. Hingga pada akhirnya Sunan Bonang memerintahkan, yang sebenarnya isi perintah itu adalah ajaran tarekat yang tidak langsung disebutkan, Raden Said untuk bertapa di tepi sungai,[3] yang – kita semua sudah tahu akhirnya – kemudian mengangkat derajat dan kedudukannya sebagai salah satu anggota wali sanga yang linuwih dan terpilih. Inilah salah satu jalan (baca: tarekat) yang dilakukan oleh para wali.
Tradisi bertapa ini, dan tentunya dibarengi dengan wiridan, masih banyak kita jumpai di tempat-tempat keramat dan pesantren-pesantren. Karena mereka meyakini bahwa jalan ini adalah salah satu cara yang ampuh untuk mendekati atau lebih dekat dengan Allah swt, dan karena dalam laku ‘tapa’ (yang dalam bahasa Arabnya di sebut Zuhud) ini, seorang manusia berusaha keras untuk mengambil sebagian kecil dari sifat-sifat Allah swt, yaitu tidak tidur, tidak makan, tidak minum, tidak kawin, dan sifat-sifat lain yang manusiawi. Sehingga dengan cara (baca: tarekat) pedekatan ini, ada semacam ‘kesesuaian kecil’ yang terjadi, walaupun sebenarnya hanya sebentar saja, antara manusia dan Allah swt, dan dengan kesesuaian itulah lahir sebuah keyakinan yang tinggi bahwa dirinya dekat dengan Allah swt. Jadi, tarekat adalah perjalanan menuju kepada Allah swt dengan ilmu dan amal[4] untuk mencapai perjalanan menuju Allah swt dengan Allah swt[5].
Fenomena di atas dapat juga dikatakan sebagai model tarekat awal yang masih berkembang hingga saat ini dengan bobot ‘tapa’ yang lebih kecil dan singkat. Misalnya, kita masih sering melihat orang melakukan tirkatan (tapa) tujuh, sembilan, dua puluh satu, hingga empat puluh satu hari untuk melaksanakan perintah gurunya[6]. Bedanya, yang dilakukan oleh Raden Said adalah murni kepatuhan seorang murid kepada mursyid. Sedangkan yang dilakukan oleh orang zaman ini lebih banyak bertujuan untuk menuntaskahn masalah-masalah yang tidak dapat di selesaikan dengan materi dan dunia yang dimiliki olehnya.
Dalam Babad Cirebon Naskah Kuningan, Sunan Gunungjati pernah belajar tarekat Syatariyah pada seorang mursyid yang bernama Syekh Najmuddin[7]. Sekalipun mungkin pencantuman Sunan Gunungjati sebagi murid Syekh Najmuddin dalam hal tarekat Syatariyah merupakan rekaan penulis babad belaka, tapi yang harus kita sadari adalah bahwa tarekat ini sudah ada sejak penulis badab ini hidup. Fakta inilah yang tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun.
Ada sekitar tujuh tarekat yang hingg sekarang masih melakukan kegiatan tareknya dan masih terus berkembang di antaranya ialah tarekat Syatariyah, Muhammadiyah, Asrariyah, Ghazaliyah, Jazuliyah, Kadiriyah, dan Naksabandiyah. Masing-masing tarekat ini memiliki basis perkembangan di suatu daerah tertentu yang cukup ketat. Sebagai  misal, tarekat Tijaniyah hanya berkembang pesat melalui pondok pesantren Buntet, dan tidak bisa di terima oleh masyarakat Benda Kerep. Pun demikian, awalnya, Buntet tidak mau menerima tarekat Syatariyah. Kedua pihak ini mencair ketika ada mediasi dari Balerante melalui cara pengungkapan bukti-bukti faktual berupa keabsaan sanad yang dimiliki oleh kedua belah pihak.
Adapun di lingkungan keraton tumbuh subur tarekat Syatariyah, Muhammadiyah, dan Asrariyah. Di lingkungan pesantren Buntet masih berkembang tarekat Tijaniyah dan Syatariyah. Di lingkungan pesantren Benda Kerep, berkembang tarekat Syatariyah, Muhammadiyah, dan Asrariyah. Di pesantren Balerante, berkembang tarekat Syatariyah dan Muhammadiyah.
Sebenarnya, jika kita melihat informasi yang ada dalam naskah tarekat yang di miliki oleh Elang Panji Jaya, Mertasinga, jumlah tarekat yang pernah berkembang di Cirebon mencapai 41 (empat puluh satu) aliran. Sebuah jumlah yang cukup mengejutkan dan fantastis. Informasi ini memberi gambaran pada kita bahwa, dahulu, perkembangan tarekat di Cirebon bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Nama-nama aliran tarekat yang disebutkan dalam naskah ini adalah tarekat Naksabandiyah, Kadiriyah, Sadiliyah, Rifaiah, Ahmadiyah, Akbariyah, Mauludiyah, Kubrawiyah, Sahrawardiyah, Khalwatiyah, Jalutiyah, Bukrasiyah, Ghazaliyah, Rumiyah, Sa’diyah, Sa’baniyah, Kasyafiyah, Hazawiyah, Biramiyah, Asyakiyah, Jitsniyah, Bakriyah, Umariyah, Usmaniyah, Ulwiyah, Abasiyah, Zaenabiyah, Isawiyah, Maghrabiyah, Buhuriyah, Hadadiyah, Ghaibiyah, Hadhoriyah, Syatariyah, Bayumiyah, Malamiyah, Firdausiyah, Matbuliyah, Sunbuliyah, Bayumiyah, dan Uwesiyah.
Jumlah tarekat sebanyak 41 (empat puluh satu) tersebut sebenarnya mungkin kurang akurat, karena menyebutkan tarekat Bayumiyah sebanyak dua kali. Akan tetapi, dalam naskah ini, tidak menyebutkan tarekat Muhammadiyah dan Asrariyah. Padahal, dua tarekat ini masih ada hingga sekarang.
Perkembangan tarekat selanjutnya lebih menitik beratkan pada kegiatan dzikir dan sosial keagamaan, berupa kegemaran bersedekah dan membagi-bagikan zakat kepada fakir miskin. Tarekat memang identik dengan dzikir, dan tarekat juga tidak pernah menolak amal shaleh lain yang ditradisikan oleh para mursyidnya.
Perkembangan tarekat yang terakhir ini, yang ada di Cirebon dan masih cukup menonjol, adalah perkembangan dengan mengambil metode (baca: tarekat) dzkir yang lebih mudah diikuti oleh kebanyakan orang – berbeda dengan metode (baca: tarekat) ‘tapa’ (baca: zuhud) yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang terpilih atau pilihan – yang masih mencintai ajaran tarekat. Karena sejatinya, tarekat adalah segudang cara manusia yang rindu pada Tuhannya guna mendekatkan dirinya pada-Nya, di dunia dan akhirat.






[1] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Yogyakarta, 1984, hlm. 910.
[2] M. Abdul Mujieb, Eniklopedia Tasawuf  Imam Ghazali, Penerbit Hikmah (PT. Mizan Publika) 2009, hlm. 525.
[3] Budi Santoso memberikan penjelasan bahwa ‘tapa lali’ yang dilakukan oleh Raden Said (sebelum menjadi Sunan Kalijaga) dilakukan selama 11 (sebelas tahun). Menurut Naskah Carub Kanda Carang Seket halaman 538, tapa itu hanya berlangsung selama satu tahun, dan di kubur di dalam tanah. Pada saat terakhir Sunan Bonang menjemput Raden Said, ia sudah mmenjadi batu (tidak bernafas) dan berkat doa Sunan Bonang, berkah kepatuhan Raden Said kepadanya, dan atas izin Allah, nyawa Raden Said dapat dikembalikan lagi. Kejadian ini menurut beliu, berlangsung di sebuah tepi sungai dekat Gunung Cupang, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Bukti-buki dan jejak Raden Said (Sunan Kalijaga) saat bergelar Lokajaya dan Pertapaan itu masih ada hingga sekarang di daerah itu. Perlu penelitian ulang untuk mengabsahkan bukti-bukti yang ditunujukkan.
[4] Abu Zakariya Al-Anshari, Naskah Jungjang I (Fathur Rahman - Syarah Ruslan II), hlm. 5.
[5] Ruknuddin Abdul Qudus, Naskah Jungjang I (Majma’ul Bahrain- Syarah Ruslan I), hlm. 12.
[6] Fenomena ini bisa kita saksikan di sekitar makam-makam keramat dan masjid-masjid keramat yang ada di Cirebon, mungkin juga di seluruh Jawa dan Nusantara.
[7] Amman N. Wahyu, Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Kuningan), Penerbit PUSTAKA 2007, hlm. 50.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar